Pages

temulawak



TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) 

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza  Roxb.) merupakan tanaman obat asli Indonesia.Rata-rata produksi nasional relatif rendah  yakni 10,7 ton/ha pada tahun 2000  (Direktorat  Aneka  Tanaman,  2000cit BALITRO, 2013),  sedangkan potensi produksi varietas unggul temulawak bisa mencapai 20-30  ton/ha. Kebutuhan temulawak  untuk Industri  Obat  Tradisional  (IOT)  dan  Industri  Kecil  Obat Tradisional  (IKOT)  menduduki  peringkat  pertama  di  Jawa Timur  dan  peringkat  kedua  di  Jawa  Tengah  setelah  jahe (Kemala  et  al.  2003).
Hasil  survey  Kemala  et  al.  (2003) temulawak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional yang  berkhasiat  untuk  menyembuhkan  24  jenis  penyakit. Pada tahun 2004, pemerintah melalui Badan Pengawasan Obat  dan  Makanan  (BPOM)  mencanangkan  Gerakan Nasional  Minum  Temulawak  sebagai  minuman  kesehatan (Badan  POM,  2004).  Berdasarkan  hasil  survey  lainnya menunjukkan  bahwa  dari  609  produk  jamu,  176  di antaranya  mengandung  temulawak  dan  penggunaannyaterdapat  di  dalam  12  kelompok  penyakit  yang  dapat diobati  (Purwakusumah  et  al.  2008).
Dengan keadaan demikian, peluang pengembangan temulawak baik dalam usaha budidayanya maupun usaha Industri  Obat  Tradisional  (IOT)  dan  Industri  Kecil  Obat Tradisional  (IKOT) masih sangat terbuka lebar. Dan para akademisi, termasuk kita selaku mahasiswa hendaknya turut berperan serta dalam pengembangan tanaman asli Indonesia tersebut melalui pembelajaran cara budidaya secara teori maupun di lapangan dan mempelajari kandungan zat alami serta khasiat temulawak.

Masyarakat indonesia tentu tidak asing lagi dengan Temulawak. Tanaman obat ini merupakan salah satu tumbuhan asli Indonesia yang diketahui memiliki khasiat mengobati beberapa jenis penyakit. Tanaman yang termasuk kedalam jenis temu-temuan ini sudah sejak lama dijadikan sebagai bahan ramuan obat tradisional.Peranan temulawak sebagai obat diketahui dan pemanfaatannya sudah dilakukan sejak dulu hingga sekarang berdasarkan pengalaman turun-temurun. Umumnya temulawak terutama bagian rimpangnya dijadikan sebagai salah satu bahan ramuan untuk membuat jamu tradisional.

A.  Taksonomi dan Morfologi Tanaman Temulawak
Temulawak  (Curcuma  xanthorrhiza Roxb.)  adalah  tanaman  asli  Indonesia yang berkhasiat untuk menjaga kesehatan dari berbagai penyakit. Temulawak  dikenal  dengan  nama  Koneng  Gede  (Jawa  Barat),  temolabak  (Jawa Tengah),  temulawak  (Sumatera). Sistematika temulawak yaitu (Hembing, 2010; Mangan, 2008; Soesilo, 1989cit Bogor Agricultural, 2012):
Kingdom          : Plantae
Subkingdom     : Tracheobionta
Super Divisi      : Spermatophyta
Divisi                : Magnoliophyta
Kelas               : Liliopsida
Sub Kelas        : Commelinidae
Ordo                : Zingiberales
Famili               : Zingiberaceae
Genus               : Curcuma
Spesies : Curcuma xanthorrhiza Roxb.
Tanaman  temulawak  termasuk  tanaman  tahunan  yang  tumbuh  merumpun dengan batang semu dan tingginya dapat mencapai 2-2,5 meter. Tiap rumpun tanaman ini terdiri atas beberapa anakan dan tiap anakan memiliki 2-9  helai  daun.  Daun  tanaman temulawak  bentuknya  panjang  dan  agak  lebar, berwarna hijau tua dengan semburat ungu kecoklatan di bagian tengah daun. Panjang daun sekitar 50–55 cm dan lebar ±18 cm (Gambar 1a). Bunga temulawak biasanya muncul dari batang semunya setelah tanaman cukup dewasa. Bunga berukuran pendek dan lebar,  berwarna  putih  kekuningan  bercampur  merah (Gambar 1b).  Temulawak menghasilkan rimpang temulawak (umbi akar) yang bentuknya bulat seperti telur (silinder  dengan  pusatnya  berwarna  kuning  tua  dan  kulitnya  berwarna  kuning muda). Jika rimpang dibelah akan beraroma khas dan jika dimakan akan terasa pahit (Gambar 1c). Bagian tanaman  yang digunakan sebagai obat adalah umbi akar atau rimpangnya (Mahendra, 2005; Mangan, 2008; Rukmana, 1995 cit Bogor Agricultural, 2012).

a
c
b

Gambar 1. Tanaman temulawak
(a)     bagian batang dan daun, (b) bagian bunga, dan (c) bagian rimpang.

B.  Syarat Tumbuh Tanaman Temulawak
Temulawak tumbuh baik pada lokasi tipe iklim B dan C menurut Oldeman (1975), dengan curah hujan sekurangkurangnya  1.500  mm/tahun,  bulan  kering  3-4  bulan  pertahun, suhu udara rata-rata tahunan 19–30 ºC, kelembaban udara  70-90%.  Temulawak  dapat  ditanam  di  bawah tegakan dengan tingkat naungan maksimal 25% (Hasanah and  Rahardjo, 2008). Temulawak dapat tumbuh baik pada jenis  tanah  latosol,  andosol,  podsolik  dan  regosol  yang mempunyai  tekstur  liat  berpasir,  gembur,  subur  banyak mengandung bahan organik, pH tanah 5,0–6,5.

C.  Budidaya Tanaman Temulawak
Orientasi  budidaya  tanaman  obat  pada umumnya  termasuk  temulawak  tidak hanya  ditujukan kepada produktivitas biomasa yang tinggi, tetapi juga kepada tingginya  mutu  bahan  aktif  yang  dikandungnya.   Produktivitas  dan  mutu  bahan  aktif  temulawak dipengaruhi  oleh banyak  faktor  antara  lain:  1)  lingkungan  tumbuh,  2)  sifat unggul  tanaman  (varietas),  3)  ketersediaan  unsur  hara(pupuk),  4)  perlindungan  tanaman  terhadap  organisme pengganggu  tanaman  (OPT),  dan  tidak  kalah  pentingnya adalah 5) penanganan pasca panen. Teknologi budidaya di tingkat  petani  masih  secara  tradisional,  belum  mengacu kepada  SOP  yang  telah  ada,  mulai  dari  pemilihan lingkungan  tumbuh  yang  tepat,  penggunaan  varietas unggul, benih bermutu, pemupukan, dan panen yang tepat.
Berikut ini adalah SOP budidaya temulawak yang dibuat oleh BALITRO (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, 2013):
1.)      Persiapan Bahan Tanam
Balai  Penelitian  Tanaman  Obat  dan  Aromatik (BALITTRO) telah mempunyai 3 varietas unggul temulawak (Cursina 1, Cursina 2 dan Cursina 3).  Faktor lain sebagai penentuan  pada  keberhasilan  budidaya  temulawak,  selain penggunaan  varietas  unggul  adalah   mutu  benih.  Benih yang sehat dan berviabilitas tinggi merupakan faktor input yang paling menentukan produktivitas tanaman. Tingkat keberhasilan budidaya tanaman lebih kurang 40%  ditentukan  oleh  kualitas  benih  (Rahardjo,  2001). Benih  temulawak  yang  dipakai  bisa  berasal  dari  rimpang induk  dan  rimpang  cabang  (Sukarman  et  al.  2007).
Benih berasal  dari  rimpang  induk  yang  ukurannya  besar  dapat dibagi  menjadi  2  atau  4  bagian  dengan  cara  memotong (membelah).  Benih  yang  berasal  dari   rimpang  cabang berukuran  besar  dapat  dilakukan  pemotongan,  ukuran benih  disarankan  20-40  g/potong  benih,  setiap  benihdiusahakan mempunyai 2 sampai 3 mata tunas. Benih yang telah  dipotong  diusahakan  ditaburi  abu  sekam,  untuk mencegah terjadinya infeksi hama dan penyakit. Penyemaian  benih  yang  baik  dan  benar  dapat dilakukan sebagai berikut :
a.        Di  dalam  bak  pasir  yang  basah  setelah  diairi (kandungan  airnya  lebih  kurang  kapasitas  lapang), benih  ditanam  dengan  kedalaman  lebih  kurang 5  cm,  kemudian  ditutup  pasir  setebal  2  cm,  usahakan  kondisi  pesemian  selalu  lembab  dengan  menyiramnya dengan air.
b.      Di  media tanah kering yang dihampar mulsa jerami atau  alang-alang  di  atasnya  dengan  ketebalan  lebih kurang 5 cm, rimpang dihampar di atas lapisan mulsa setinggi  satu  lapis,  rimpang  disebar  merata  (tidak menumpuk),  kemudian  ditutup  dengan  mulsa  jerami atau  alang-alang  lagi,  usahakan  kondisi  pesemian selalu lembab dengan menyiramnya air setiap hari.
c.       Di atas rak kayu atau bambu yang disusun bertingkat (3-4  tingkat)  yang  telah  dilapisi  oleh  jerami  atau alang-alang,  benih  dihampar  1  lapis  di  setiap  rak kemudian  ditutup  dengan  jerami  atau  alang-alang, usahakan  kondisi  pesemian  selalu  lembab  dengan menyiramnya air setiap hari.
Penyemaian  benih  dilakukan  selama  2-4  minggu, tunas  sudah  tumbuh  dengan,  panjang  sekitar  0,50  cm, benih siap dipindahkan ke lapang produksi.

2.)      Persiapan Lahan
Persiapan lahan dilakuakn dengan pengolahan lahan yang akan dipakai, yaitu dimulai  dari  membersihkan  lahan dengan  traktor,  garpu  atau  cangkul  sedalam  kurang  lebih 30 cm. Kemudian tanah dihaluskan hingga gembur. Tanah yang  sudah  digemburkan  pada  lahan  yang  datar  dibuat petak  dengan  menggunakan  ukuran  lebar  petak  3-4  m dan  panjang  petak  sesuai  dengan  kondisi  lahan.  Pada tanah  yang  konturnya  miring  lebih  baik  dibuat  guludan. Batas antar petak atau guludan dibuat parit sebagai saluran pembuangan  air  dan  untuk  memudahkan   pemeliharaantanaman, seperti memupuk, menyiang dan panen. Lobang tanam  dibuat  sedalam  lebih  kurang  10  cm.  Ke  dalam lobang  tanam  diberikan  pupuk  kandang  yang  sudah matang  dengan  dosis  0,5-1  kg/lobang  tanam,  diberikan 1-2 minggu sebelum tanam.

3.)      Penanaman
Musim tanam temulawak biasanya pada awal musim hujan (September sampai Oktober) dan masa panennya di musim  kemarau  setelah  tanaman  berumur  7  sampai  9 bulan. Temulawak  bisa  ditanam  dengan  jarak  tanam  75 x 60 cm atau 75 x 50 cm pada  pola tumpang-sari, dan jarak tanam  50 x 50  cm  pada  pola  monokultur.  Sistem  pola tumpangsari  yang  disarankan  adalah  menaman  tanaman semusim  di  sela-sela  tanaman  temulawak,  seperti  padi gogo dan kacang tanah (Syakir  et al. 2008), serta dengan jagung, sehingga pendapatan petani bertambah. Selain itu temulawak juga dapat ditanam di bawah tegakan  tanaman sengon,  papaya,  kayu  jati  dengan  tingkat  naungan  tidak lebih dari 40%.
Benih  temulawak  yang  sudah  disemaikan  dan  telah bertunas  dimasukkan  ke  dalam  lubang  tanam  yang  telah diberi  pupuk  kandang,  SP18  dan  KCl  sesuai  dengan takaran yang  sudah  ditentukan,  dengan  arah  mata  tunas menghadap ke atas.

4.)      Pemeliharaan
Pemeliharaan  tanaman  meliputi  penyiangan,  pembumbunan  dan  pengendalian  OPT.  Penyiangan  dilakukan setelah  tanaman  berumur  1  BST,  berikutnya  dilakukan sebulan  sekali,  atau  disesuaikan  dengan  kebutuhan. Setelah tanaman disiang kemudian dipupuk dan dilakukan pembumbunan,  yaitu  menaikkan  tanah  ke  dalam  petak penanaman,  sekaligus  memperdalam  parit  antar  petak untuk memperbaikai drainase.
Pemupukan
Ada  dua  cara  pemupukan  yang  dapat  diterapkan pada  budidaya  temulawak,  yakni  pemupukan  anorganik dan  pemupukan  organik.  Pada  pemupukan  anorganik, pupuk yang dipersyaratkan pada SOP budidaya temulawak adalah  pupuk  organik  (pupuk  kandang), Urea,  SP36  dan KCl.  Secara  umum  pupuk  yang  dianjurkan  pada  SOP budidaya temulawak monokultur adalah 10-20 ton/ha pupuk kandang, 200 kg/ha Urea, 100 kg/ha SP18 dan 100 kg/ha KCl  (Rahardjo  dan  Rostiana,  2005).  Sedangkan  untuk budidaya  pola  tumpang-sari  adalah  10-20  ton/ha  pupuk kandang, 200 kg/ha Urea, 200 kg/ha SP18 dan 200 kg/haKCl.  Pada  pemupukan  organik,  pemupukan  dilakukan hanya dengan pupuk kandang. Pupuk  kandang  diberikan  1-2  minggu  sebelum tanam  di  lobang  tanam,  sedangkan  pupuk  SP18  dan  KCl diberikan  pada  saat  tanam,  sedangkan  pupuk  Urea diberikan  dalam  tiga  agihan,  1/3  dosis  diberikan  1  bulan setelah  tanam  (BST),  1/3 dosis  diberikan  2  BST  dan  1/3 diberikan setelah 3 BST dengan cara tugal.
Pengendalian OPT
Pengendalian OPT untuk tanaman temulawak masih jarang  dilakukan,  karena  sampai  saat  ini  belum  terdapat serangan  OPT  yang  merugikan.  Bila  terdapat  serangan OPT  disarankan  untuk  melakukan  pengendalian  secara hayati  atau  mekanis  dengan  cara  membuang  kemudian memusnahkan bagian tanaman yang terserang.

5.)      Panen dan Pasca Panen
Pada  musim  kemarau  tanaman  temulawak  mengalami  senescen,  batang  dan  daunnya  mengering,  ciri  ini menunjukkan  bahwa  tanaman  siap  untuk  dipanen.  Umur optimal  temulawak  siap  dipanen  berkisar  antara  10-12 bulan  setelah  tanam.  Pada  kondisi  demikian  asimilat  di bagian  vegetatif  sudah  diretranslokasikan  ke  bagian rimpang,  sehingga  diharapkan  kualitas  rimpang  telah mencapai  optimal.  Namun  temulawak  bisa  ditunda  masa panennya  hingga  tahun  berikutnya,  sampai  1,  2  atau  3 tahun.  Penundaan  masa  panen  dilakukan  untuk  menghindari  nilai  jual  yang  rendah,  jika  harga  rendah petani biasanya tidak mau memanen temulawaknya, dan merekaakan  menjual  temulawak  apabila  ada  permintaan  pasar atau harga jualnya memadai.
Sebagai  bahan  baku  jamu  dan  obat,  rimpang hendaknya  dijaga  kebersihannya,  dengan  cara  dicuci  air bersih,  kemudian  dirajang  tipis-tipis  lantas  dijemur. Perajangan dilakukan dengan ketebalan  4-7 mm. Hasil rajangan  (simplisia)  kemudian  dijemur  di  bawah  sinar matahari  atau  dikeringkan  di  dalam  oven.  Simplisia  yang dikeringkan  di  bawah  sinar  matahari  ditutupi  dengan  kain hitam,  agar  tidak  terkena  langsung  sinar  matahari  yang menyebabkan  warna  simplisia  yang  dihasilkan  buram/tidak  cerah.  Sedangkan  yang  dikeringkan  di  dalam  oven, diusahakan suhu oven  tidak lebih dari 40 ºC. Pelaksanaan pengeringan  diakhiri  setelah  kadar  air  simplisia  mencapai ±10%.  Pada  kondisi  demikian  diharapkan  simplisia terbebas dari jamur dan OPT lainnya. Simplisia yang sudah kering  bisa  dikemas pada  kemasan  plastik  kedap  udara untuk  disimpan  sementara  atau  dikirim  ke  tempat  pembuatan jamu atau obat.

D.  Kandungan dan Khasiat Senyawa Alami Temulawak sebagai Obat
Secara  empiris,  rimpang  temulawak  terbukti  berkhasiat  untuk  kesehatan. Rimpangtemulawak  digunakan  sebagai  obat  hepatoproteksi, antiinflamasi,  antikanker,  antidiabetes,  antimikroba,  antihiperlipidemia,  antikolera,  antibakteri,  antioksidan  (Hwang, 2006, Darusman et al.  2007, Rukayadi et al.  2006, Masuda et al. 1992).
Jamu temulawak ini diyakini dapat mengatasi pegal linu, rhematik, rasa lelah, diare, wasir, disentri, pembengkakan akibat infeksi, cacar, jerawat, eksim, sakit kuning, sembelit, kurang nafsu makan, radang lambung, kejang kejang, kencing darah, kurang darah dan ayan. Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh institusi kesehatan untuk mengetahui lebih jauh tentang manfaat tanaman ini bagi manusia. Dari beberapa penelitian didapatkan bahwa kandungan kimia dalam rimpang temulawak seperti flavonida berkhasiat dalam menyembuhkan radang, kandungan minyak atsiri berkhasiat fungistatimk pada beberapa jenis jamur dan bakteriostatik pada mikroba Staphylococcus sp. dan Salmonella sp. Laporan penelitian lainnya menyebutkan bahwa rimpang temulawak bisa dijadikan sebagai anti kolesterol, meningkatkan nafsu makan, anemia, dan pencegah kanker.Rimpang temulawak juga diketahui sebagai obat fitofarmaka, berkhasiat dalam mengatasi gangguan pada saluran pencernaan, kandung empedu, kelainan hati, pankreas, tekanan darah tinggi, usus halus, kontraksi usus, TBC, sariawan dan dapat dipergunakan sebagai tonikum.Penelitian lainnya yang dilakukan oleh beberapa universitas berhasil membuktikan bahwa rimpang temulawak bisa juga digunakan sebagai obat antistroke, antioksidan, menghambat osteoporosis, sebagai antiplasmodial, anti plak dan pertahanan gigi (Raharjo dan Rostiana, 2005; Dalimartha,2007; Anonim, 2008; Sardi, 2000cit Anonim, 2013).
Komposisi  kandungan  kimia  pada  rimpang  temulawak dan khasiat untuk kesehatan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Komposisi kandungan kimia temulawak dan manfaatnya
No
Kandungan Kimia
Khasiat Untuk Kesehatan
1
Zat Tepung
Meningkatkan Kerja Ginjal
2
Kurkumin
Antiinflamasi
3
Minyak Atsiri
Antiinflamasi, Antihepatotoksik
4
Kurkuminoid
Antikeracunan Empedu, Antikolestrol
5
Fellandrean
Anemia, Antioksidan, dan Antikanker
6
Turmerol
Antimikroba, Sakit Limpa, dan Asma
7
Kamfer
Meningkatkan Produksi ASI dan Nafsu Makan
8
Glukosida
Obat Jerawat, Sakit Pinggang
9
Foluymetik
Sakit Kepala, Cacar
10
Karbinol
Sariawan, Asma, dan Nyeri Haid.
(Sumber : Istafid, 2006cit Bogor Agricultural, 2012)

Kurkuminoid  pada  rimpang  temulawak  merupakan  turunan  dari diferuloilmetan  terdiri  atas  senyawa  dimetoksi  diferuloilmetan  (kurkumin)  dan monodesmetoksi  diferuloilmetan  (desmetoksikurkumin).  Kurkumin  berwarna kuning,  rasa  sedikit  pahit,  larut  dalam  aseton,  alkohol,  asam  asetat  glasial,  dan alkali hidroksida.
Manfaat  kurkumin  antara  lain  sebagai  obat  jerawat,  meningkatkan  nafsu makan, antioksidan, pencegah kanker, dan antimikroba. Zat warna  kurkumin  dimanfaatkan  sebagai  pewarna  untuk  makanan  manusia  dan ternak. Hasil penelitian Liang et al. 1985 menyatakan bahwa kurkumin rimpang temulawak  berkhasiat  menetralkan  racun,  menghilangkan  rasa  nyeri  sendi, menurunkan kadar kolesterol darah, mencegah pembentukan lemak dalam sel hati dan sebagai antioksidan. Jumlah kurkumin yang aman dikonsumsi oleh manusia adalah 100 mg/hari sedangkan untuk tikus 5 g/hari.
Berdasarkan  penelitiaan  Zhu  et  al.  (2004) dalam Bogor Agricultural (2012),  kurkumin  dapat  melindungi  sel saraf  dari  kerusakan  oksidatif  setelah  sel  diiinduksi  tert-butyl  hydroperoxide  (tBHP). T-BHP merupakan zat yang dapat menimbulkan kerusakan oksidatif pada sel  saraf  tikus.  Perlakuan  kultur  sel  saraf  tikus  dewasa  menggunakan  kurkumin dapat  melindungi  sel  saraf  dari  kerusakan  dan  kematian  sel  sehingga  kurkumin dapat digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit neurodegenerasi.
Minyak atsiri merupakan senyawa yang dapat meningkatkan produksi getah empedu  dan  sebagai  antiinflamasi.  Kandungan  kimia  minyak  atsiri  antara  lain feladren, kamfer, tumerol, tolil-metilkarbinol, arkurkumen, zingiberen, kuzerenon, germakron,  β-tumeron serta xanthorrhizol yang dihasilkan hingga 40%.  Menurut  Ozaki  (1990) dalam Bogor Agricultural (2012),  efek  antiinflamasi  pada  temulawak disebabkan oleh adanya germakron. Senyawa fenol yang terdapat pada temulawak bisa  berfungsi  sebagai  antioksidan  karena  kemampuannya  mennghilangkan radikal-radikal  bebas  dan  radikal  peroksida  sehingga  efektif  dalam  menghambat oksidasi lipida.
Xanthorrhizol  merupakan  senyawa  yang  terkandung  dalam  minyak  atsiri. Xanthorrhizol  merupakan  antibakteri  potensial  yang  memiliki  spektrum  luas terhadap  aktivitas  antibakteri,  stabil  terhadap  panas,  dan  aman  terhadap  kulit manusia.  Xanthorrhizol  secara  efisien  dapat  menghambat  infeksi  pada  gigi  dan penyakit  kulit,  dapat  dimanfaatkan  pada  berbagai  produk  misalnya  digunakan sebagai  agen  antibakteri,  pasta  gigi,  sabun,  pembersih  mulut,  permen  karet,  dan kosmetik  yang  memerlukan  aktivitas  antibakteri. Xanthorrhizol memberikan  efek  antiproliferasi  pada  sel  kanker  payudara  (Hwang,  2006).

DAFTAR PUSTAKA


Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)  RI.  2004.  Informasi  Temulawak  Indonesia. Badan  Pengawas  Obat  dan  Makanan  RI  bekerja sama dengan Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia, Jakarta.

Balai Penelitian  Tanaman  Obat  dan  Aromatik (BALITTRO). 2013. Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Temulawak(Curcuma xanthorrhiza Roxb.). BALITRO, Bogor.

Bogor Agricultural. 2012. Temulawak(Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Darusman,  L.  K.,  B.  P.  Priosoeryanto,  M.  Hasanah,  M. Rahardjo  dan  E.  D.  Purwakusumah.  2007.  Potensi temulawak  terstandar  untuk  menanggulangi  flu burung. Institut  Pertanian Bogor  bekerja  sama  dengan  Badan  Litbang  Pertanian, Bogor. Laporan  Hasil  Penelitian.

Hasanah,  M.  dan  M.  Rahardjo.  2008.  Javanese  Turmeric Cultivation.  Proceeding  Of  The  First  International  Symposium On Temulawak. Biopharmaca Research Center Bogor Agricultural University, Bogor.

Hwang, J.K., J.S. Shim and Y.R. Pyun. 2006. Antibacterial activity  of  xanthorrhizol  from  Curcuma  xanthorrhizaagainst oral pathogens. Fitoterapia 71:321-323.

Kemala, S. Sudiarto, E.R.Pribadi, J.T. Yuhono, M. Yusron, L. Mauludi, M. Raharjo, B. Waskito, dan H. Nurhayati.2003.   Studi  Serapan,  Pasokan  dan  Pemanfaatan Tanaman  Obat  di  Indonesia.  Laporan  teknis  penelitian  Bagian  Proyek  Penelitian  Tanaman  Rempah dan Obat APBN, Bogor.

Masuda,  T.,  I.  Junko,  A.  Jitoe,  and  N.  Nakatani.  1992. Antioxidative curcuminoide from rhizomes of Curcuma xanthorrhiza. Phytochemistry 31 : 3645-3647.

Oldeman, L.R. 1975. An Agro-climatic  map of Java. Contr. Centr. Inst., New York.

Purwakusumah,  E.D.,  Y.  Lestari,  M.  Rahminiwati,  M. Ghulamahdi,  B.  Barus  dan  M.  Machmud,  MT.  2008. Menjadikan  Temulawak  Sebagai  Bahan  Baku Utama  Industri  Berbasis  Kreatif  Yang  Berdaya Saing.  Pusat  Studi  Biofarmaka  LPPM-IPB, Bogor.

Rahardjo, M. 2001. Karakteristik beberapa bahan tanaman obat keluarga Zingiberaceae. Buletin Plasma Nutfah, Badan Litbang Pertanian, 7:25-30.

Rukayadi,  Y.  D.  Yong  dan  J.K.  Hwang.  2006.  In  vitro anticandidal  activity  of  xanthorrhizol  isolated from  Curcuma  xanthorrhiza  Roxb.  J.  Antimicrob Chemother 132:1-4.

Sukarman,  M.  Rahardjo,  D.  Rusmin  dan  Melati.  2007. Efisiensi  penggunaan  benih  nomor  harapan  temulawak  Curcuma  xanthorrhiza  Roxb.  Laporan  Teknis Penelitian  Balai  Penelitian  Tanaman  Obat  dan Aromatik,  Puslitbangbun,  Badan  Litbang  Pertanian.

Syakir,  M.,  N.  Maslahah  dan  M.  Januwati.  2008.  Mix cropping  system  for  Zingiberaceae  for  up  land site  and  dry  agro-ecological  zone  of  East  Java. Proceeding  of  the  first  international  symposium  on temulawak.  Biopharmaca  Research  Center  Bogor Agricultural University, Bogor.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About