TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)

Temulawak
(Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman obat asli Indonesia.Rata-rata
produksi nasional relatif rendah yakni
10,7 ton/ha pada tahun 2000 (Direktorat Aneka
Tanaman, 2000cit BALITRO, 2013), sedangkan
potensi produksi varietas unggul temulawak bisa mencapai 20-30 ton/ha. Kebutuhan temulawak untuk Industri Obat
Tradisional (IOT) dan Industri Kecil
Obat Tradisional (IKOT) menduduki
peringkat pertama di
Jawa Timur dan peringkat
kedua di Jawa
Tengah setelah jahe (Kemala
et
al. 2003).
Hasil survey Kemala
et
al. (2003) temulawak
digunakan sebagai bahan baku obat tradisional yang berkhasiat
untuk menyembuhkan 24
jenis penyakit. Pada tahun 2004,
pemerintah melalui Badan Pengawasan Obat
dan Makanan (BPOM)
mencanangkan Gerakan
Nasional Minum Temulawak
sebagai minuman kesehatan (Badan POM,
2004). Berdasarkan hasil survey
lainnya menunjukkan
bahwa dari 609
produk jamu, 176 di
antaranya mengandung temulawak
dan penggunaannyaterdapat di
dalam 12 kelompok
penyakit yang dapat diobati
(Purwakusumah et al. 2008).
Dengan
keadaan demikian, peluang pengembangan temulawak baik dalam usaha budidayanya
maupun usaha Industri Obat Tradisional
(IOT) dan Industri
Kecil Obat Tradisional (IKOT) masih sangat terbuka lebar. Dan para
akademisi, termasuk kita selaku mahasiswa hendaknya turut berperan serta dalam
pengembangan tanaman asli Indonesia tersebut melalui pembelajaran cara budidaya
secara teori maupun di lapangan dan mempelajari kandungan zat alami serta
khasiat temulawak.
Masyarakat indonesia
tentu tidak asing lagi dengan Temulawak. Tanaman obat ini merupakan salah satu
tumbuhan asli Indonesia yang diketahui memiliki khasiat mengobati beberapa
jenis penyakit. Tanaman yang termasuk kedalam jenis temu-temuan ini sudah sejak
lama dijadikan sebagai bahan ramuan obat tradisional.Peranan temulawak sebagai
obat diketahui dan pemanfaatannya sudah dilakukan sejak dulu hingga sekarang
berdasarkan pengalaman turun-temurun. Umumnya temulawak terutama bagian
rimpangnya dijadikan sebagai salah satu bahan ramuan untuk membuat jamu
tradisional.
A.
Taksonomi dan Morfologi Tanaman Temulawak
Temulawak (Curcuma
xanthorrhiza Roxb.) adalah tanaman
asli Indonesia yang berkhasiat
untuk menjaga kesehatan dari berbagai penyakit. Temulawak dikenal
dengan nama Koneng
Gede (Jawa Barat),
temolabak (Jawa Tengah), temulawak
(Sumatera). Sistematika temulawak yaitu (Hembing, 2010; Mangan, 2008;
Soesilo, 1989cit Bogor Agricultural,
2012):
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma
xanthorrhiza Roxb.
Tanaman temulawak
termasuk tanaman tahunan
yang tumbuh merumpun dengan batang semu dan tingginya
dapat mencapai 2-2,5 meter. Tiap rumpun tanaman ini terdiri atas beberapa
anakan dan tiap anakan memiliki 2-9
helai daun. Daun
tanaman temulawak bentuknya panjang
dan agak lebar, berwarna hijau tua dengan semburat
ungu kecoklatan di bagian tengah daun. Panjang daun sekitar 50–55 cm dan lebar
±18 cm (Gambar 1a). Bunga temulawak biasanya muncul dari batang semunya setelah
tanaman cukup dewasa. Bunga berukuran pendek dan lebar, berwarna
putih kekuningan bercampur
merah (Gambar 1b). Temulawak menghasilkan
rimpang temulawak (umbi akar) yang bentuknya bulat seperti telur (silinder dengan
pusatnya berwarna kuning
tua dan kulitnya
berwarna kuning muda). Jika
rimpang dibelah akan beraroma khas dan jika dimakan akan terasa pahit (Gambar
1c). Bagian tanaman yang digunakan
sebagai obat adalah umbi akar atau rimpangnya (Mahendra, 2005; Mangan, 2008;
Rukmana, 1995 cit Bogor Agricultural,
2012).
a
|
c
|
b
|
Gambar 1. Tanaman temulawak
(a)
bagian batang dan daun, (b) bagian bunga, dan (c)
bagian rimpang.
B.
Syarat Tumbuh Tanaman Temulawak
Temulawak
tumbuh baik pada lokasi tipe iklim B dan C menurut Oldeman (1975), dengan curah
hujan sekurangkurangnya 1.500 mm/tahun,
bulan kering 3-4
bulan pertahun, suhu udara
rata-rata tahunan 19–30 ºC, kelembaban udara
70-90%. Temulawak dapat
ditanam di bawah tegakan dengan tingkat naungan maksimal
25% (Hasanah and Rahardjo, 2008).
Temulawak dapat tumbuh baik pada jenis
tanah latosol, andosol,
podsolik dan regosol
yang mempunyai tekstur liat
berpasir, gembur, subur
banyak mengandung bahan organik, pH tanah 5,0–6,5.
C.
Budidaya Tanaman Temulawak
Orientasi budidaya
tanaman obat pada umumnya
termasuk temulawak tidak hanya
ditujukan kepada produktivitas biomasa yang tinggi, tetapi juga kepada
tingginya mutu bahan
aktif yang dikandungnya. Produktivitas dan
mutu bahan aktif
temulawak dipengaruhi oleh
banyak faktor antara
lain: 1) lingkungan
tumbuh, 2) sifat unggul
tanaman (varietas), 3)
ketersediaan unsur hara(pupuk),
4) perlindungan tanaman
terhadap organisme
pengganggu tanaman (OPT),
dan tidak kalah
pentingnya adalah 5) penanganan pasca panen. Teknologi budidaya di
tingkat petani masih
secara tradisional, belum
mengacu kepada SOP yang
telah ada, mulai
dari pemilihan lingkungan tumbuh
yang tepat, penggunaan
varietas unggul, benih bermutu, pemupukan, dan panen yang tepat.
Berikut ini adalah SOP
budidaya temulawak yang dibuat oleh BALITRO (Balai Penelitian Tanaman Obat dan
Aromatik, 2013):
1.) Persiapan
Bahan Tanam
Balai Penelitian
Tanaman Obat dan
Aromatik (BALITTRO) telah mempunyai 3 varietas unggul temulawak (Cursina
1, Cursina 2 dan Cursina 3). Faktor lain
sebagai penentuan pada keberhasilan
budidaya temulawak, selain penggunaan varietas
unggul adalah mutu
benih. Benih yang sehat dan
berviabilitas tinggi merupakan faktor input yang paling menentukan produktivitas
tanaman. Tingkat keberhasilan budidaya tanaman lebih kurang 40% ditentukan
oleh kualitas benih
(Rahardjo, 2001). Benih temulawak
yang dipakai bisa
berasal dari rimpang induk
dan rimpang cabang
(Sukarman et al. 2007).
Benih
berasal dari rimpang
induk yang ukurannya
besar dapat dibagi menjadi
2 atau 4
bagian dengan cara
memotong (membelah). Benih yang
berasal dari rimpang
cabang berukuran besar dapat
dilakukan pemotongan, ukuran benih
disarankan 20-40 g/potong
benih, setiap benihdiusahakan mempunyai 2 sampai 3 mata
tunas. Benih yang telah dipotong diusahakan
ditaburi abu sekam,
untuk mencegah terjadinya infeksi hama dan penyakit. Penyemaian benih
yang baik dan
benar dapat dilakukan sebagai berikut
:
a. Di dalam
bak pasir yang
basah setelah diairi (kandungan airnya
lebih kurang kapasitas
lapang), benih ditanam dengan
kedalaman lebih kurang 5
cm, kemudian ditutup
pasir setebal 2
cm, usahakan kondisi
pesemian selalu lembab
dengan menyiramnya dengan air.
b. Di media
tanah kering yang dihampar mulsa jerami atau
alang-alang di atasnya
dengan ketebalan lebih kurang 5 cm, rimpang dihampar di atas
lapisan mulsa setinggi satu lapis,
rimpang disebar merata
(tidak menumpuk), kemudian ditutup
dengan mulsa jerami atau
alang-alang lagi, usahakan
kondisi pesemian selalu lembab dengan
menyiramnya air setiap hari.
c. Di atas rak kayu atau bambu yang disusun bertingkat
(3-4 tingkat) yang
telah dilapisi oleh
jerami atau alang-alang, benih
dihampar 1 lapis
di setiap rak kemudian
ditutup dengan jerami
atau alang-alang, usahakan kondisi
pesemian selalu lembab
dengan menyiramnya air setiap hari.
Penyemaian benih
dilakukan selama 2-4
minggu, tunas sudah tumbuh
dengan, panjang sekitar
0,50 cm, benih siap dipindahkan
ke lapang produksi.
2.)
Persiapan
Lahan
Persiapan
lahan dilakuakn dengan pengolahan lahan yang akan dipakai, yaitu dimulai dari
membersihkan lahan dengan traktor,
garpu atau cangkul
sedalam kurang lebih 30 cm. Kemudian tanah dihaluskan hingga
gembur. Tanah yang sudah digemburkan
pada lahan yang
datar dibuat petak dengan
menggunakan ukuran lebar
petak 3-4 m dan
panjang petak sesuai dengan
kondisi lahan. Pada tanah
yang konturnya miring
lebih baik dibuat
guludan. Batas antar petak atau guludan dibuat parit sebagai saluran pembuangan air
dan untuk memudahkan
pemeliharaantanaman, seperti memupuk, menyiang dan panen. Lobang
tanam dibuat sedalam
lebih kurang 10
cm. Ke dalam lobang
tanam diberikan pupuk
kandang yang sudah matang
dengan dosis 0,5-1
kg/lobang tanam, diberikan 1-2 minggu sebelum tanam.
3.)
Penanaman
Musim
tanam temulawak biasanya pada awal musim hujan (September sampai Oktober) dan
masa panennya di musim kemarau setelah
tanaman berumur 7
sampai 9 bulan. Temulawak bisa
ditanam dengan jarak
tanam 75 x 60 cm atau 75 x 50 cm
pada pola tumpang-sari, dan jarak
tanam 50 x 50 cm
pada pola monokultur.
Sistem pola tumpangsari yang
disarankan adalah menaman
tanaman semusim di sela-sela
tanaman temulawak, seperti
padi gogo dan kacang tanah (Syakir
et al. 2008), serta dengan
jagung, sehingga pendapatan petani bertambah. Selain itu temulawak juga dapat
ditanam di bawah tegakan tanaman
sengon, papaya, kayu
jati dengan tingkat
naungan tidak lebih dari 40%.
Benih temulawak
yang sudah disemaikan
dan telah bertunas dimasukkan
ke dalam lubang
tanam yang telah diberi
pupuk kandang, SP18
dan KCl sesuai
dengan takaran yang sudah ditentukan,
dengan arah mata
tunas menghadap ke atas.
4.)
Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman
meliputi penyiangan, pembumbunan
dan pengendalian OPT.
Penyiangan dilakukan setelah tanaman
berumur 1 BST,
berikutnya dilakukan sebulan sekali,
atau disesuaikan dengan
kebutuhan. Setelah tanaman disiang kemudian dipupuk dan dilakukan pembumbunan, yaitu
menaikkan tanah ke
dalam petak penanaman, sekaligus
memperdalam parit antar
petak untuk memperbaikai drainase.
Pemupukan
Ada dua
cara pemupukan yang
dapat diterapkan pada budidaya
temulawak, yakni pemupukan
anorganik dan pemupukan organik.
Pada pemupukan anorganik, pupuk yang dipersyaratkan pada SOP
budidaya temulawak adalah pupuk organik
(pupuk kandang), Urea, SP36
dan KCl. Secara umum
pupuk yang dianjurkan
pada SOP budidaya temulawak monokultur
adalah 10-20 ton/ha pupuk kandang, 200 kg/ha Urea, 100 kg/ha SP18 dan 100 kg/ha
KCl (Rahardjo dan
Rostiana, 2005). Sedangkan
untuk budidaya pola tumpang-sari
adalah 10-20 ton/ha
pupuk kandang, 200 kg/ha Urea, 200 kg/ha SP18 dan 200 kg/haKCl. Pada
pemupukan organik, pemupukan
dilakukan hanya dengan pupuk kandang. Pupuk kandang
diberikan 1-2 minggu
sebelum tanam di lobang
tanam, sedangkan pupuk
SP18 dan KCl diberikan
pada saat tanam,
sedangkan pupuk Urea diberikan dalam
tiga agihan, 1/3
dosis diberikan 1
bulan setelah tanam (BST),
1/3 dosis diberikan 2 BST dan
1/3 diberikan setelah 3 BST dengan cara tugal.
Pengendalian
OPT
Pengendalian
OPT untuk tanaman temulawak masih jarang
dilakukan, karena sampai
saat ini belum
terdapat serangan OPT yang
merugikan. Bila terdapat
serangan OPT disarankan untuk
melakukan pengendalian secara hayati
atau mekanis dengan
cara membuang kemudian memusnahkan bagian tanaman yang
terserang.
5.)
Panen
dan Pasca Panen
Pada musim
kemarau tanaman temulawak
mengalami senescen, batang
dan daunnya mengering,
ciri ini menunjukkan bahwa
tanaman siap untuk
dipanen. Umur optimal temulawak
siap dipanen berkisar
antara 10-12 bulan setelah
tanam. Pada kondisi
demikian asimilat di bagian
vegetatif sudah diretranslokasikan ke
bagian rimpang, sehingga diharapkan
kualitas rimpang telah mencapai optimal.
Namun temulawak bisa
ditunda masa panennya hingga
tahun berikutnya, sampai
1, 2 atau 3
tahun. Penundaan masa
panen dilakukan untuk
menghindari nilai jual
yang rendah, jika
harga rendah petani biasanya
tidak mau memanen temulawaknya, dan merekaakan
menjual temulawak apabila
ada permintaan pasar atau harga jualnya memadai.
Sebagai bahan
baku jamu dan
obat, rimpang hendaknya dijaga
kebersihannya, dengan cara
dicuci air bersih, kemudian
dirajang tipis-tipis lantas
dijemur. Perajangan dilakukan dengan ketebalan 4-7 mm. Hasil rajangan (simplisia)
kemudian dijemur di
bawah sinar matahari atau
dikeringkan di dalam
oven. Simplisia yang dikeringkan di
bawah sinar matahari
ditutupi dengan kain hitam,
agar tidak terkena
langsung sinar matahari
yang menyebabkan warna simplisia
yang dihasilkan buram/tidak
cerah. Sedangkan yang dikeringkan
di dalam oven, diusahakan suhu oven tidak lebih dari 40 ºC. Pelaksanaan
pengeringan diakhiri setelah
kadar air simplisia
mencapai ±10%. Pada kondisi
demikian diharapkan simplisia terbebas dari jamur dan OPT
lainnya. Simplisia yang sudah kering
bisa dikemas pada kemasan
plastik kedap udara untuk
disimpan sementara atau
dikirim ke tempat
pembuatan jamu atau obat.
D.
Kandungan dan Khasiat Senyawa Alami Temulawak
sebagai Obat
Secara empiris,
rimpang temulawak terbukti
berkhasiat untuk kesehatan. Rimpangtemulawak digunakan
sebagai obat hepatoproteksi, antiinflamasi, antikanker,
antidiabetes, antimikroba, antihiperlipidemia, antikolera,
antibakteri, antioksidan (Hwang, 2006, Darusman et al. 2007, Rukayadi et al.
2006, Masuda et al. 1992).
Jamu
temulawak ini diyakini dapat mengatasi pegal linu, rhematik, rasa lelah, diare,
wasir, disentri, pembengkakan akibat infeksi, cacar, jerawat, eksim, sakit
kuning, sembelit, kurang nafsu makan, radang lambung, kejang kejang, kencing
darah, kurang darah dan ayan. Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh institusi
kesehatan untuk mengetahui lebih jauh tentang manfaat tanaman ini bagi manusia.
Dari beberapa penelitian didapatkan bahwa kandungan kimia dalam rimpang
temulawak seperti flavonida berkhasiat dalam menyembuhkan radang, kandungan
minyak atsiri berkhasiat fungistatimk pada beberapa jenis jamur dan
bakteriostatik pada mikroba
Staphylococcus sp. dan Salmonella
sp. Laporan penelitian lainnya menyebutkan bahwa rimpang temulawak bisa
dijadikan sebagai anti kolesterol, meningkatkan nafsu makan, anemia, dan
pencegah kanker.Rimpang temulawak juga diketahui sebagai obat fitofarmaka,
berkhasiat dalam mengatasi gangguan pada saluran pencernaan, kandung empedu,
kelainan hati, pankreas, tekanan darah tinggi, usus halus, kontraksi usus, TBC,
sariawan dan dapat dipergunakan sebagai tonikum.Penelitian lainnya yang
dilakukan oleh beberapa universitas berhasil membuktikan bahwa rimpang
temulawak bisa juga digunakan sebagai obat antistroke, antioksidan, menghambat
osteoporosis, sebagai antiplasmodial, anti plak dan pertahanan gigi (Raharjo
dan Rostiana, 2005; Dalimartha,2007; Anonim, 2008; Sardi, 2000cit Anonim, 2013).
Komposisi kandungan
kimia pada rimpang
temulawak dan khasiat untuk kesehatan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel
1 Komposisi kandungan kimia temulawak dan manfaatnya
No
|
Kandungan
Kimia
|
Khasiat
Untuk Kesehatan
|
1
|
Zat Tepung
|
Meningkatkan
Kerja Ginjal
|
2
|
Kurkumin
|
Antiinflamasi
|
3
|
Minyak Atsiri
|
Antiinflamasi,
Antihepatotoksik
|
4
|
Kurkuminoid
|
Antikeracunan
Empedu, Antikolestrol
|
5
|
Fellandrean
|
Anemia,
Antioksidan, dan Antikanker
|
6
|
Turmerol
|
Antimikroba,
Sakit Limpa, dan Asma
|
7
|
Kamfer
|
Meningkatkan
Produksi ASI dan Nafsu Makan
|
8
|
Glukosida
|
Obat Jerawat,
Sakit Pinggang
|
9
|
Foluymetik
|
Sakit Kepala,
Cacar
|
10
|
Karbinol
|
Sariawan,
Asma, dan Nyeri Haid.
|
(Sumber
: Istafid, 2006cit Bogor
Agricultural, 2012)
Kurkuminoid pada
rimpang temulawak merupakan
turunan dari diferuloilmetan terdiri
atas senyawa dimetoksi
diferuloilmetan (kurkumin) dan monodesmetoksi diferuloilmetan (desmetoksikurkumin). Kurkumin
berwarna kuning, rasa sedikit
pahit, larut dalam
aseton, alkohol, asam
asetat glasial, dan alkali hidroksida.
Manfaat kurkumin
antara lain sebagai
obat jerawat, meningkatkan
nafsu makan, antioksidan, pencegah kanker, dan antimikroba. Zat warna kurkumin
dimanfaatkan sebagai pewarna
untuk makanan manusia
dan ternak. Hasil penelitian Liang et
al. 1985 menyatakan bahwa kurkumin rimpang temulawak berkhasiat
menetralkan racun, menghilangkan
rasa nyeri sendi, menurunkan kadar kolesterol darah,
mencegah pembentukan lemak dalam sel hati dan sebagai antioksidan. Jumlah
kurkumin yang aman dikonsumsi oleh manusia adalah 100 mg/hari sedangkan untuk
tikus 5 g/hari.
Berdasarkan penelitiaan
Zhu et al. (2004) dalam Bogor Agricultural (2012), kurkumin
dapat melindungi sel saraf
dari kerusakan oksidatif
setelah sel diiinduksi
tert-butyl hydroperoxide (tBHP). T-BHP merupakan zat yang dapat menimbulkan
kerusakan oksidatif pada sel saraf tikus.
Perlakuan kultur sel
saraf tikus dewasa
menggunakan kurkumin dapat melindungi
sel saraf dari
kerusakan dan kematian
sel sehingga kurkumin dapat digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit neurodegenerasi.
Minyak
atsiri merupakan senyawa yang dapat meningkatkan produksi getah empedu dan
sebagai antiinflamasi. Kandungan
kimia minyak atsiri
antara lain feladren, kamfer, tumerol,
tolil-metilkarbinol, arkurkumen, zingiberen, kuzerenon, germakron, β-tumeron serta xanthorrhizol yang dihasilkan
hingga 40%. Menurut Ozaki
(1990) dalam Bogor Agricultural (2012),
efek antiinflamasi pada
temulawak disebabkan oleh adanya germakron. Senyawa fenol yang terdapat
pada temulawak bisa berfungsi sebagai
antioksidan karena kemampuannya
mennghilangkan radikal-radikal
bebas dan radikal
peroksida sehingga efektif
dalam menghambat oksidasi lipida.
Xanthorrhizol merupakan
senyawa yang terkandung
dalam minyak atsiri. Xanthorrhizol merupakan
antibakteri potensial yang
memiliki spektrum luas terhadap
aktivitas antibakteri, stabil
terhadap panas, dan
aman terhadap kulit manusia. Xanthorrhizol
secara efisien dapat
menghambat infeksi pada
gigi dan penyakit kulit,
dapat dimanfaatkan pada
berbagai produk misalnya
digunakan sebagai agen antibakteri,
pasta gigi, sabun,
pembersih mulut, permen
karet, dan kosmetik yang
memerlukan aktivitas antibakteri. Xanthorrhizol memberikan efek
antiproliferasi pada sel
kanker payudara (Hwang,
2006).
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Kandungan
Kimia Serta Manfaat Temulawak. <http://tanamanobat-herbal.blogspot.com/2013/05/kandungan-kimia-serta-manfaat-temulawak.html>.
Diakses pada tanggal 05 Desember 2013.
Badan Pengawasan
Obat dan Makanan (BPOM) RI. 2004. Informasi Temulawak
Indonesia. Badan Pengawas Obat
dan Makanan RI
bekerja sama dengan Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia, Jakarta.
Balai Penelitian Tanaman Obat
dan Aromatik (BALITTRO). 2013. Standar
Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Temulawak(Curcuma xanthorrhiza Roxb.). BALITRO, Bogor.
Bogor
Agricultural. 2012. Temulawak(Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Darusman, L.
K., B. P.
Priosoeryanto, M. Hasanah,
M. Rahardjo dan E.
D. Purwakusumah. 2007.
Potensi temulawak terstandar untuk
menanggulangi flu burung. Institut Pertanian Bogor bekerja
sama dengan Badan
Litbang Pertanian, Bogor.
Laporan Hasil Penelitian.
Hasanah, M.
dan M. Rahardjo.
2008. Javanese Turmeric Cultivation. Proceeding
Of The First
International Symposium On
Temulawak. Biopharmaca Research Center Bogor Agricultural University, Bogor.
Hwang, J.K.,
J.S. Shim and Y.R. Pyun. 2006. Antibacterial activity of
xanthorrhizol from Curcuma xanthorrhizaagainst oral pathogens.
Fitoterapia 71:321-323.
Kemala, S.
Sudiarto, E.R.Pribadi, J.T. Yuhono, M. Yusron, L. Mauludi, M. Raharjo, B.
Waskito, dan H. Nurhayati.2003.
Studi Serapan, Pasokan
dan Pemanfaatan Tanaman Obat
di Indonesia. Laporan
teknis penelitian Bagian
Proyek Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat APBN, Bogor.
Masuda, T.,
I. Junko, A.
Jitoe, and N.
Nakatani. 1992. Antioxidative
curcuminoide from rhizomes of Curcuma xanthorrhiza.
Phytochemistry 31 : 3645-3647.
Oldeman, L.R. 1975.
An Agro-climatic map of Java. Contr.
Centr. Inst., New York.
Purwakusumah, E.D.,
Y. Lestari, M.
Rahminiwati, M. Ghulamahdi, B.
Barus dan M.
Machmud, MT. 2008. Menjadikan Temulawak
Sebagai Bahan Baku Utama
Industri Berbasis Kreatif
Yang Berdaya Saing. Pusat
Studi Biofarmaka LPPM-IPB, Bogor.
Rahardjo, M.
2001. Karakteristik beberapa bahan tanaman obat keluarga Zingiberaceae. Buletin
Plasma Nutfah, Badan Litbang Pertanian, 7:25-30.
Rukayadi, Y.
D. Yong dan
J.K. Hwang. 2006.
In vitro anticandidal activity
of xanthorrhizol isolated from
Curcuma xanthorrhiza Roxb.
J. Antimicrob Chemother 132:1-4.
Sukarman, M.
Rahardjo, D. Rusmin
dan Melati. 2007. Efisiensi penggunaan
benih nomor harapan
temulawak Curcuma xanthorrhiza Roxb.
Laporan Teknis Penelitian Balai
Penelitian Tanaman Obat
dan Aromatik, Puslitbangbun, Badan
Litbang Pertanian.
Syakir, M.,
N. Maslahah dan M. Januwati.
2008. Mix cropping system
for Zingiberaceae for up
land site and
dry agro-ecological zone
of East Java. Proceeding of the first
international symposium on temulawak.
Biopharmaca Research Center
Bogor Agricultural University, Bogor.
0 komentar:
Posting Komentar